-->

ALAM KITA

ALAT KONTRASEPSI PENCEGAH KEHAMILAN, KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA


Saat ini tersedia ragam jenis atau macam-macam alat kontrasepsi atau KB yang membantu menunda atau mencegah kehamilan. Hanya saja, tidak jarang hal tersebut justru menimbulkan kebingungan saat akan memilih. Padahal, penggunaannya hanya akan efektif jika digunakan dengan tepat. Pemilihan alat kontrasepsi harus disesuaikan dengan kebutuhan pasangan. Berikut informasi tentang alat kontrasepsi serta kelebihan dan kekurangannya.

A. Alat Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi hormonal umumnya mengandung kombinasi dari progestin dan estrogen, atau progesteron saja. Kontrasepsi ini tersedia dalam berbagai bentuk. Macam-macam alat kontrasepsi hormonal termasuk pil KB, suntik KB, implan, patch, dan cincin vagina.
1. Pil KB Kombinasi Progestin Dan Estrogen
Kandungan di dalam pil KB ini adalah kombinasi antara progestin dan estrogen. Kontrasepsi yang satu ini membantu menahan ovarium agar tidak memproduksi sel telur.
Alat kontrasepsi ini juga menyebabkan adanya perubahan pada lendir serviks atau leher rahim serta endometrium agar sperma tidak bisa ‘bertemu’ dengan sel telur. Berbeda tipe pil KB kombinasi, maka kandungan dosis estrogen dan progestin di dalamnya pun berbeda.
Oleh sebab itu, jika ingin menggunakan satu dari macam-macam alat kontrasepsi yang tersedia bisa meminta dokter untuk membantu menentukan jenis pil KB kombinasi yang sesuai.
Sebelum menggunakannya, ada baiknya jika terlebih dulu mencari tahu mengenai kelebihan dan kekurangan dari pil kombinasi ini.

Kelebihan dari alat kontrasepsi pil KB kombinasi
a.Mengurangi perdarahan saat menstruasi. Biasanya, jika mengalami pendarahan berat saat menstruasi, berarti kamu sedang mengalami fibroid rahim atau berbagai kondisi kesehatan lainnya.
b. Dapat mengurangi gejala PMS atau premenstrual syndrome. Gejala dari kondisi ini tak jarang mengganggu, sehingga tentu kamu akan merasa lebih nyaman jika gejalanya bisa berkurang.
c. Membantu siklus menstruasi yang tadinya berantakan menjadi lebih teratur.
d. Dapat mengurangi rasa sakit atau kram yang disebabkan karena menstruasi.
e. Dapat mengurangi risiko dari penyakit kanker ovarium serta endometrium, stroke, salphingitis, dan rematik.
f. Dapat mengurangi produksi hormon androgen yang menjadi penyebab timbulnya sindrom ovarium polikistik atau PCOS yang mungkin kamu alami.
Kekurangan alat kontrasepsi pil KB kombinasi
a. Dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
b. Berpotensi meningkatkan berat badan. Namun, kondisi tersebut bisa diatasi dengan cara mengimbangi penggunaannya dengan diet dan berolahraga.
c. Dapat mengganggu produksi Air Susu Ibu (ASI
d. Tidak dapat melindungi kamu dari risiko tertular penyakit kelamin.
e. Gairah seks menurun
2. Pil KB progestin
Jenis pil KB berikutnya dikenal dengan pil mini. Pil ini berbeda dengan pil kombinasi, pil mini hanya mengandung progestin saja. Alat kontrasepsi oral ini memiliki kandungan hormon progestin yang lebih rendah dari dosis progestin pada pil kombinasi.
Pil KB progestin dapat membuat lendir serviks menjadi lebih kental, sehingga mencegah sperma untuk ‘bertemu’ dengan sel telur. Menggunakan pil mini juga dapat menahan atau mencegah proses ovulasi, meski hanya pada saat-saat tertentu saja.
Kelebihan alat kontrasepsi pil KB progestin
a. Penggunaan pil mini atau pil KB progestin cenderung mudah. Pasalnya, saat memutuskan untuk berhenti menggunakan pil ini, kamu tidak perlu menunggu terlalu lama hingga masa subur kamu kembali normal seperti semula.
b. Penggunaannya tidak menimbulkan efek samping seperti hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
c. Tidak mengganggu produksi Air Susu Ibu (ASI).
Kekurangan alat kontrasepsi pil KB progestin
a. Dapat menyebabkan peningkatan berat badan.
b. Dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur.
c. Pil ini juga tidak membantu mengurangi risiko mengalami infeksi menular seksual yang mungkin terjadi saat melakukan hubungan intim dengan pasangan.
d. Gairah seks menurun
3. Suntik KB
Suntik KB dibagi menjadi 2 tipe, ada yang menunda kehamilan selama 1 bulan ada pula untuk 3 bulan.

Kelebihan alat kontrasepsi Suntik KB
a. Jenis kontrasepsi ini hampir mirip dengan pil KB, namun jika pil KB harus rutin dikonsumsi setiap hari, sedangkan suntik rutin setiap satu bulan atau 3 bulan sekali.
b. Kontrasepsi ini juga termasuk dalam kategori temporer dan masih tergolong murah, dengan tingkat kegagalan tiga persen dalam pencegahan kehamilan.
Kekurangan alat kontrasepsi Suntik KB
a. Rasa mual
b. Peningkatan berat badan
c. Gairah seks menurun
d. Pendarahan di luar jadwal menstruasi atau bahkan tidak menstruasi samasekali
f. Sakit kepala
g. Jerawatan
4. Implan/Norplant/Susuk
Kontrasepsi jenis ini merupakan penanaman sebuah benda kecil seukuran batang korek api yang dimasukkan ke bagian bawah kulit, umumnya pada lengan bagian atas. Implan termasuk dalam kategori KB temporer, dengan jangka waktu pencegahan kehamilan selama 3 tahun.
Kekurangan alat kontrasepsi Suntik KB
a. Tingkat kegagalan sangat baik yaitu hanya satu persen.
b. Jangka waktu penggunaannya selama 3 tahun.
c. tidak mengganggu produksi ASI.

Kekurangan alat kontrasepsi Suntik KB
a. Rasa nyeri di bagian lengan atas atau tempat implan ditanam
b. Menstruasi tidak teratur
c. Peningkatan berat badan
d. Kesulitan hamil kembali setelah implan dilepas
e. Harganya relatif lebih mahal
4. Alat kontrasepsi IUD  (Intra-Uterine Device)
IUD merupakan alat kontrasepsi yang memiliki berbentuk seperti huruf T. IUD ini dimasukkan ke dalam rahim dan terkadang  menyisakan sedikit benang di vagina untuk menandakan posisi IUD.
Ada 2 macam alat kontrasepsi IUD yang bisa dipilih, yaitu IUD berisi tembaga dan hormon. IUD tembaga bisa digunakan sampai 10 tahun, sedangkan IUD hormon hanya sampai lima tahun.
Kelebihan alat kontrasepsi IUD
a. Alat KB IUD adalah alat kontrasepsi yang “use and forget”. Artinya, IUD mudah digunakan, namun setelah pemasangan alat kontrasepsi ini, kamu tidak perlu merasa harus repot dalam penggunaannya sehari-hari.
b. Penggunaan IUD dipergunakan untuk waktu jangka panjang. Jadi, kamu hanya perlu menggunakannya untuk sekali pakai dalam kurun waktu tertentu.
c. IUD tidak akan mengganggu kesuburanmu. Pasalnya, setelah alat ini dilepas dari rahim, kesuburanmu dapat kembali dengan cepat.
Kekurangan alat kontrasepsi IUD
a. Posisi dari alat ini bisa bergeser saat berada di dalam rahim.
b. Alat ini sebenarnya membuat yang menggunakannya merasa tidak nyaman. Bahkan, pasangan juga mungkin akan merasa tak nyaman saat melakukan hubungan seksual denganmu karena ada sisa benang IUD di vagina.
c. Penggunaan KB IUD dapat menyebabkan efek samping seperti kram dan perdarahan saat menstruasi menjadi lebih banyak.

B. Alat Kontrasepsi Dengan Metode Penghalang Fisik
Selain beberapa kontrasepsi hormonal di atas, ada pula kontrasepsi yang dilakukan dengan penghalang fisik, seperti:
1. Kondom
Selain penggunaan kontrasepsi hormonal, kamu juga bisa menggunakan kondom. Kondom adalah merupakan kontrasepsi yang bisa kamu pilih. Meski lebih umum ditemukan kondom untuk pria, namun ada pula kontdom untuk wanita. Efektivitas kondom dalam mencegah kehamilan meningkat terutama setelah ditambahkan lubrikan spermisida di kondom.
Kelebihan alat kontrasepsi kondom
a. Dapat mencegah penularan penyakit kelamin.
b. Alat ini juga sangat praktis dan mudah ditemukan di mana saja. c. Alat ini juga sangat mudah digunakan.

Kekurangan alat kontrasepsi kondom
a. Penggunaan kondom dapat menimbulkan alergi dari bahan yang digunakan untuk membuat kondom.
b. Harus dibeli dalam jumlah banyak jika ingin menggunakannya. Pasalnya, kondom hanya bisa digunakan sekali.
c. Pemakaian kondom harus tepat karena dapat timbul risiko terlepas.
2. Spermisida
Spermisida adalah zat kimia yang dapat merusak sperma. Spermisida dapat berbentuk krim, jeli, busa atau supositori. Namun,  bisa digunakan sebagai alat kontrasepsi.

Kelebihan alat kontrasepsi spermisida
a. Penggunaan spermisida sifatnya hanya sementara, sehingga alat ini bisa dijadikan sebagai alternatif bagi wanita yang ingin atau butuh proteksi sementara.
b. Spermisida bisa didapatkan dengan mudah.
Kekurangan alat kontrasepsi spermisida
a. Masa perlindungan alat ini terlalu singkat sesuai sifat penggunaan. Hal ini menyebabkan efektivitasnya akan berkurang, apabila pemakaiannya sudah melebihi satu jam.
b. Tidak bisa mencegah penularan penyakit kelamin saat berhubungan dengan pasangan jika menggunakan spermisida.
3. Diafragma
Diafragma biasanya terbuat dari lateks atau silikon, berbentuk melingkar seperti kubah dan berfungsi mencegah sperma masuk ke dalam rahim. Cara penggunaannya adalah menekuk atau melipatnya menjadi dua bagian, lalu memasukkannya ke dalam vagina untuk melindungi serviks.
Kelebihan alat kontrasepsi diafragma
a. Dapat digunakan bersamaan dengan alat lain, seperti spermisida. Penggunaan keduanya bersamaan dapat meningkatkan efektivitas diafragma.
b. Diafragma bisa dipakai berulang kali.

Kekurangan alat kontrasepsi diafragma
a. Diafragma yang terlalu besar bisa membuat rasa yang tidak nyaman, sedangkan yang terlalu kecil bisa berisiko lepas atau pindah posisi.
b. Penggunaan diafragma dapat menimbulkan iritasi pada alat kelamin.

C. Metode Kontrasepsi Alami
Jika kamu dan pasangan tidak dapat menggunakan alat kontrasepsi di atas karena berbagai alasan, kamu dapat menerapkan metode pencegahan alami, antara lain:
1. Sistem KB kalender
Tanpa bantuan macam-macam alat kontrasepsi, metode ini menggunakan penghitungan masa subur wanita, dan menghindari berhubungan seks pada masa subur tersebut.
Kelebihan sistem kb kalender
Dibanding kontrasepsi lain, metode sistem kb kalender yang satu ini sangat murah karena tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak. Di samping itu, metode sistem kb kalender hanya mengandalkan perhitungan masa subur. Sehingga, tidak perlu menggunakan bantuan alat apapun.

Kekurangan sistem kb kalender
Dibanding kontrasepsi lainnya, sistem kb kalender ini kurang efektif. Apalagi, metode ini memiliki kemungkinan gagal hingga mencapai 20%.
2. Menyusui
Pada ibu yang menyusui anaknya secara eksklusif, pembuahan tidak dapat terjadi selama 10 minggu pertama, sehingga kehamilan dapat dicegah.

Kelebihan menyusui
Jika ingin menggunakan cara ini, tidak perlu mengeluarkan uang. Di samping itu, tidak perlu menggunakan alat apapun atau mengonsumsi apapun. Hal yang perlu dilakukan adalah menyusui.
Kekurangan menyusui
Metode ini kurang efektif untuk mencegah kehamilan. Biasanya pasangan yang menggunakan metode ini menunggu haid pertama setelah melahirkan untuk berhenti berhubungan seks, padahal masa pembuahan terjadi sebelum adanya menstruasi.

D. Metode Kontrasepsi Permanen
Kontrasepsi permanen atau sterilisasi merupakan pilihan bagi pasangan yang tidak ingin memiliki anak lagi. Pada wanita, teknik yang dapat dilakukan adalah tubektomi, ligasi tuba, implan tuba, dan elektrokoagulasi tuba. Sementara itu, pada pria dapat dilakukan vasektomi.

Kelebihan kontrasepsi permanen
a. Kontrasepsi permanen memiliki efektivitas yang sangat tinggi dalam mencegah kehamilan.
b. Kontrasepsi permanen tidak memerlukan alat atau hormon tambahan lagi.
Kekurangan kontrasepsi permanen
a. Biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani proses dari metode ini tentu lebih mahal dibanding metode atau penggunaan kontrasepsi lainnya.
b. Resiko komplikasi dari tindakan yang harus dijalani untuk metode kontrasepsi permanen ini bisa berupa perdarahan atau infeksi.
c. Meski sudah bersifat permanen, metode ini juga tidak dapat mencegah penularan penyakit kelamin.
Dari beragam jenis atau macam-macam alat kontrasepsi, penting untuk memutuskan bersama dengan pasangan. Hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain apakah pasangan masih ingin memiliki anak atau tidak, kapan pasangan ingin memiliki anak lagi, atau adakah penyakit tertentu yang diidap yang mungkin dapat terpengaruh kontrasepsi. Selain itu pertimbangkan pula harga dan kepraktisan dari setiap metode.




PENYAKIT PADA SISTEM REPRODUKSI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN


Penyakit pada sistem reproduksi bisa menyerang pria dan wanita. Penyakit ini bisa disebabkan oleh infeksi, peradangan, kelainan genetik, gangguan hormon, bahkan kanker. Penyakit yang menyerang sistem reproduksi ini berpeluang tinggi untuk menyebabkan masalah kesuburan.
Sistem reproduksi pria dan wanita memiliki keunikan tersendiri. Masing-masing sistem reproduksi memiliki struktur dan fungsi yang berdeda. Meski begitu, keduanya dirancang untuk memungkinkan adanya pembuahan sel telur oleh sperma, yang akan berlanjut menjadi kehamilan.
Seperti sistem lainnya di dalam tubuh, sistem reproduksi juga dapat mengalami gangguan atau penyakit. Karena struktur dan fungsinya berbeda, penyakit pada sistem reproduksi pria dan wanita juga akan berbeda.

A. Penyakit pada Sistem Reproduksi Pria
Pria juga memiliki sistem reproduksi yang berada di luar dan di dalam tubuh. Organ reproduksi pria yang terletak di luar tubuh meliputi penis, skrotum (kantong zakar), dan testis.
Sedangkan organ reproduksi pria yang berada di dalam tubuh adalah epididimis, saluran vas deferens, saluran kemih, vesikula seminalis (kantung air mani), kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethral.
Berikut ini adalah beberapa penyakit yang bisa mengintai sistem reproduksi pria:
Penyakit ini terjadi akibat adanya peradangan pada epididimis, yakni saluran di dalam skrotum yang menempel pada testis. Saluran ini berperan untuk mengangkut serta menyimpan sperma yang diproduksi oleh testis.
Epididimitis dapat menyebabkan buah zakar bengkak dan nyeri, air mani mengandung darah, nyeri saat buang air kecil dan ejakulasi, serta gangguan kesuburan.
2. Orchitis
Penyakit ini merupakan salah satu penyakit pada sistem reproduksi pria yang cukup sering terjadi. Orchitis adalah peradangan pada testis, yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Orchitis bisa menyerang salah satu testis maupun keduanya sekaligus.
Sama seperti epididimitis, orchitis juga bisa menyebabkan buah zakar bengkak dan nyeri. Bila tidak ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan kemandulan dan penurunan produksi hormon testosteron.
3. Gangguan prostat
Prostat adalah kelenjar pada sistem reproduksi pria yang membungkus saluran kemih atau uretra. Kelenjar ini memproduksi cairan mani yang berfungsi untuk menyuburkan dan melindungi sperma.
Gangguan pada prostat dapat berupa peradangan prostat (prostatitis), pembesaran prostat (BPH), atau kanker prostat.
BPH adalah pembesaran kelenjar prostat yang dapat menekan uretra. Kondisi yang bisa jadi merupakan bagian alami dari proses penuaan yang umumnya disebabkan adanya perubahan pada sel pertumbuhan dan keseimbangan hormon. BPH biasanya ditandai dengan gejala seperti aliran urine lemah, aliran urine yang bercabang, sering ingin buang air kecil, kencing tidak lampias, dan kesulitan buang air kecil.
Kanker prostat umumnya terjadi pada pria di atas 40 tahun, terutama pada mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat gangguan kesehatan serupa. Penyakit ini ditandai dengan rasa nyeri saat buang air kecil dan saat ejakulasi, rasa sakit di punggung bawah, dan terdapat darah dalam urine. Dalam menangani kanker prostat bisa dilakukan terapi hormon, terapi radiasi, kemoterapi, dan operasi tergantung kepada tingkat keparahan kanker.
4. Hipogonadisme
Hipogonadisme pada pria terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan hormon testosteron yang cukup. Pada pria dewasa, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan libido, gangguan produksi sperma dan fungsi organ-organ reproduksi, serta infertilitas.
5. Masalah pada penis
Masalah pada penis tak jarang dikeluhkan oleh para pria. Beberapa penyakit yang bisa menyerang organ reproduksi pria ini adalah disfungsi ereksi, kelainan bentuk penis, misalnya hipospadia atau penis bengkok (penyakit Peyronie), dan kanker penis.
6. Hipospadia
Hipospadia terjadi ketika uretra atau saluran tempat keluarnya urine berada di posisi tidak normal, yaitu bukan di ujung penis melainkan pada bagian bawahnya. Kondisi ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir yang perlu diatasi melalui tindakan operasi. Jika operasi berjalan lancar, pria dapat melakukan aktivitas seksual seperti biasa.
7. Kriptorkismus
Kriptorkismus adalah kondisi ketika salah satu atau kedua testis tidak terlihat akibat tidak terjadi penurunan testis ke tempat seharusnya. Kriptorkismus merupakan kelainan bawaan sejak lahir yang umumnya banyak dialami pada bayi yang lahir secara prematur. Orkidopeksi menjadi salah satu operasi yang efektif dalam menangani kriptorkismus.
8. Varikokel
Varikokel adalah penyakit yang ditandai dengan adanya pembengkakan pada pembuluh darah vena dalam kantong zakar (skrotum). Selain dapat memperkecil testis, penyakit reproduksi pria ini juga dapat menyebabkan infertilitas akibat berkurangnya produksi dan kualitas sperma. Waspadai beragam gejala penyakit ini, seperti pembengkakan pada skrotum, benjolan pada salah satu testis, skrotum terasa sakit, serta pembuluh testis yang terlihat membesar dan membengkak.
6. Hidrokel
Hidrokel adalah salah satu penyakit reproduksi pria yang ditandai adanya penumpukan cairan di sekitar testis, sehingga menyebabkan pembengkakan pada area skrotum. Meski umum terjadi pada bayi baru lahir dan biasanya tidak berbahaya, tapi kondisi ini bisa terasa tidak nyaman dan biasanya didahului dengan gejala seperti bengkak, rasa sakit, dan skrotum berwarna merah. Pada kasus yang jarang, hidrokel dapat terjadi bersamaan dengan kanker testis.
B. Penyakit pada Sistem Reproduksi Wanita
Sistem reproduksi wanita terdiri dari organ luar dan dalam. Organ reproduksi wanita bagian dalam meliputi vagina, rahim, saluran telur (tuba falopi), dan indung telur (ovarium). Sementara organ reproduksi wanita bagian luar terdiri dari vulva, kelenjar Bartholin, dan klitoris.
Beberapa penyakit pada sistem reproduksi wanita yang sering terjadi adalah:
Salah satu penyakit pada sistem reproduksi wanita yang sering kita dengar adalah endometriosis. Penyakit ini terjadi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di tempat lain di dalam tubuh.
Jaringan tersebut dapat tumbuh di ovarium, bagian belakang rahim, usus, atau bahkan di kandung kemih. Jaringan yang salah tempat ini akan menyebabkan nyeri haid yang hebat, perdarahan menstruasi yang deras, nyeri saat berhubungan seksual, serta sulit hamil.
2. Radang panggul
Penyakit kedua yang kerap terjadi pada sistem reproduksi wanita adalah radang panggul. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri penyebab infeksi yang merambat masuk ke dalam panggul melalui vagina atau leher rahim.
Salah satu penyebab radang panggul yang paling umum adalah penyakit menular seksual, seperti klamidia dan gonore. Jika tidak diobati dengan baik, penyakit ini bisa menyebabkan nyeri panggul jangka panjang, tersumbatnya saluran telur, infertilitas, dan kehamilan ektopik.
3. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah kondisi yang memengaruhi kadar hormon wanita. Wanita yang menderita penyakit ini akan menghasilkan hormon seks androgen dalam jumlah yang lebih banyak.
PCOS atau sindrom ovarium polikistik terkait dengan ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi ovulasi dan dapat mengarah kepada:
a. Kista
b. Periode menstruasi yang tidak teratur
c. Tingkat hormon yang tinggi.
d. Jika Anda memiliki PCOS, Anda bisa meminta saran kepada dokter mengenai program kehamilan dan kondisi kehamilan yang sehat.
4. Miom
Miom atau fibroid rahim adalah tumor jinak yang tumbuh di rahim. Tumor pada miom terbentuk dari jaringan otot rahim. Penyakit pada sistem reproduksi wanita ini sering menyerang wanita di usia produktif.
Gejalanya dapat berupa perdarahan dari vagina di luar masa haid, nyeri panggul, kram atau nyeri pada perut, nyeri punggung, sering merasa ingin pipis, serta nyeri saat berhubungan seksual.
5. Kanker pada organ reproduksi wanita
Kanker pada organ reproduksi wanita dikenal dengan istilah kanker ginekologi. Beberapa jenis kanker ginekologi adalah kanker rahim, kanker mulut rahim, kanker ovarium, dan kanker vagina.

Selain beragam penyakit pada sistem reproduksi yang telah disebutkan di atas, pria dan wanita juga bisa terkena penyakit menular seksual, seperti herpes genital, HIV/AIDS, sifilis, dan gonorea. Penyakit ini ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seksual.
Penyakit pada sistem reproduksi, baik pada pria maupun wanita, bisa menyebabkan kemandulan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk selalu menjaga kesehatan organ reproduksi dengan menjalani perilaku seks yang aman dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter untuk mendeteksi penyakit-penyakit tertentu.

ORGAN REPRODUKSI PADA WANITA


Organ reproduksi perempuan sebenarnya terdiri dari bagian eksternal dan internal. Selama ini mungkin kita hanya mengenal organ reproduksi perempuan yang di luarnya saja. Namun organ reproduksi perempuan bagian dalam juga tak kalah pentingnya dibanding organ reproduksi yang bagian luar.
A. Organ reproduksi wanita bagian luar
Ada dua fungsi utama dari organ reproduksi wanita bagian luar, yaitu untuk memudahkan sperma masuk ke dalam organ reproduksi bagian dalam, serta melindunginya dari organisme penyebab infeksi.
Organ-organ reproduksi wanita bagian luar, dikelompokkan menjadi satu dalam area yang disebut sebagai vulva. Berikut ini organ yang termasuk dalam sistem reproduksi wanita bagian luar.
Mons pubis adalah jaringan lemak yang mengelilingi tulang pubis. Jaringan ini mengandung kelenjar untuk mengeluarkan minyak dengan feromon, yang meningkatkan daya tarik seksual.
2. Labia mayor
Labia mayor merupakan pintu gerbang yang melindungi organ reproduksi wanita bagian luar lainnya. Sesuai namanya, organ ini berukuran besar. Pada labia mayor, terdapat kelenjar keringat dan sebaceous, yang memproduksi cairan lubrikasi.
Saat seorang perempuan memasuki masa pubertas, labia mayor akan mulai ditumbuhi oleh rambut kemaluan.
Labia minor terletak di sebelah dalam labia mayor, dan mengelilingi pembukaan vagina serta uretra (saluran yang membawa urine dari kandung kemih, ke luar tubuh).
Bentuk dan ukuran organ ini dapat berbeda pada tiap individu. Permukaannya pun sangat rapuh dan sensitif, sehingga membuatnya mudah mengalami iritasi dan pembengkakan.
4. Klitoris
Labia minor sisi kiri dan kanan, bertemu di tengah atas, yaitu pada klitoris. Klitoris adalah benjolan kecil yang sangat sensitif terhadap rangsangan. Bisa dibilang, organ ini memiliki fungsi serupa penis pada pria.
Klitoris ditutupi oleh lipatan kulit yang dinamakan prepuce. Seperti halnya penis, klitoris juga dapat mengalami ereksi.
Vestibular bulbs adalah dua bagian panjang pada pembukaan vagina, yang berisi jaringan erektil. Saat seorang wanita merasa terangsang, bagian ini akan terisi banyak darah, dan membesar.
Setelah wanita mengalami orgasme, darah di dalam jaringan tersebut akan kembali mengalir ke tubuh.
6. Kelenjar bartolin
Kelenjar bartolin memiliki ukuran kecil, berbentuk seperti kacang yang berada di pembukaan vagina. Fungsi organ ini adalah untuk mengeluarkan lendir dan melumasi vagina, saat melakukan hubungan seksual.
B. Organ reproduksi wanita bagian dalam
Lebih dalam dari vulva, terdapat organ reproduksi wanita bagian dalam. Berikut ini adalah bagian-bagian yang termasuk di dalamnya.
1. Vagina
Vagina adalah suatu area dengan bentuk seperti saluran, yang lentur dan berotot. Vagina terletak di antara uretra dan rektum (anus), dengan panjang sekitar 7,5-10 cm.
Bagian atas vagina terhubung dengan serviks. Sementara itu, bagian bawahnya terbuka ke arah luar.
Saat seorang perempuan melakukan hubungan seksual, vagina akan merenggang, melebar, dan dipenuhi oleh aliran darah, sebagai persiapan dari penetrasi. Vagina juga merupakan saluran tempat keluarnya lendir seviks dan darah menstruasi.
Saat proses persalinan, bayi akan keluar dari uterus menuju ke saluran vagina.
Serviks atau leher rahim adalah bagian bawah dari rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Serviks berbentuk seperti tabung, yang berfungsi untuk melindungi rahim dari infeksi, dan sebagai jalan masuk sperma saat berhubungan seksual.
3. Uterus
Uterus atau rahim adalah suatu ruang kosong yang berbentuk seperti buah pir dan berfungsi sebagai tempat berkembangnya janin. Uterus terletak di antara kandung kemih dan rektum.
Tuba falopi atau saluran tuba berbentuk seperti pembuluh kecil yang menempel pada bagian atas rahim. Organ ini berfungsi sebagai jalan yang dilalui oleh sel telur, untuk berpindah dari ovarium ke rahim.
Tuba falopi juga merupakan tempat terjadinya pembuahan. Setelah pembuahan terjadi, sel telur yang telah dibuahi, kemudian bergerak menuju rahim, untuk ditanamkan di dinding rahim.
5. Ovarium
Ovarium atau indung telur adalah jaringan kecil berbentuk oval yang berada di rahim. Ovarium berfungsi untuk memproduksi sel telur dan hormon seks perempuan, yang kemudian akan dilepaskan ke aliran darah.
Fungsi organ reproduksi wanita
Fungsi utama dari organ reproduksi wanita adalah memproduksi sel telur untuk pembuahan. Selain itu, organ-organ ini juga berfungsi sebagai tempat berkembangnya janin.
Agar fungsinya bisa berjalan dengan baik, sistem reproduksi wanita memiliki struktur tersendiri untuk mempertemukan sperma dan sel telur.
Sistem reproduksi wanita memproduksi sendiri hormon yang dibutuhkan untuk mengontrol siklus menstruasi bulanan. Hormon inilah yang kemudian akan memicu perkembangan sel telur serta pelepasannya setiap bulan. Proses ini disebut juga dengan ovulasi.
Jika salah satu sel telur ada berhasil dibuahi oleh sperma, maka akan terjadi kehamilan.
Hormon-hormon tersebut juga akan membantu mempersiapkan rahim, agar bayi dapat berkembang dengan baik di dalamnya, dan menghentikan proses ovulasi selama kehamilan.

Cara kerja sistem reproduksi wanita
Aktivitas sistem reproduksi wanita dikontrol oleh hormon yang dilepaskan oleh otak maupun ovarium. Kombinasi dari hormon-hormon ini lah yang kemudian akan memulai siklus reproduksi pada wanita.
Lamanya siklus reproduksi atau siklus menstruasi seorang wanita umumnya adalah 24-35 hari. Dalam jangka waktu tersebut, sel telur akan dibentuk dan dimatangkan. Di waktu yang bersamaan, dinding rahim akan bersiap untuk menerima sel telur yang dibuahi.
Jika pembuahan ternyata tidak terjadi selama siklus ini, maka dinding rahim yang disiapkan untuk kehamilan tersebut akan luruh dan dikeluarkan dari dalam tubuh. Proses inilah yang dinamakan menstruasi.
Baca Juga : Perkembangbiakan Vegetatif Buatan Pada Tumbuhan
Darah menstruasi adalah hasil luruhan dinding rahim, yang tidak menerima sel telur yang sudah dibuahi. Hari pertama menstruasi adalah hari pertama dari siklus reproduksi kembali dimulai.
Begitu pentingnya peran organ reproduksi wanita, sehingga Anda perlu terus menjaga kesehatannya. Periksakan kesehatan organ reproduksi Anda ke dokter secara rutin, sebagai langkah awal pencegahan maupun perawatan, apabila ada penyakit yang menyerang.
Back To Top